Batik Parang – Bukan Batik Bermotif Parang

Kita sering mendengar ketika membicarakan batik, ada yang namanya batik Parang. Faktanya, motif Parang ini adalah salah satu motif yang paling dikenal masyarakat. Kalaupun anda tidak tahu yang mana itu batik Parang, pasti sebenarnya anda sering lihat motif ini dikenakan oleh masyarakat umum. Coba anda Ingat-ingat lagi.

Nah walaupun ternyata yang namanya batik Parang itu sudah sangat dikenal dan digunakan oleh masyarakat luas, namun ternyata batik ini termasuk kepada beberapa motif larangan lho. Yaitu motif-motif yang hanya boleh digunakan oleh anggota kerajaan atau kesultanan. Bahkan konon, hanya keluarga dekat kerajaan saja yang boleh menggunakan motif ini. Hebatkan?

batik parang

Bahkan ya, sampai sekarang anda tidak boleh menggunakan batik Parang kalau sedang masuk ke dalam keraton Yogyakarta. Karena batik Parang ini dianggap sakral untuk orang-orang berstatus tinggi di kerajaan. “Motif Parang hanya boleh digunakan raja, permaisuri, dan keluarganya,” ujur menantu dari Sri Sultan Hamengkubuwono, Bray Poeroboyo, kepada seorang jurnalis detikcom di kompleks keraton.

Kalau Anda tidak berdarah biru, mungkin anda tidak cocok menggunakan motif Parang Bung! Hehehe. Lalu sebenarnya bagaimana sih asal usul batik Parang ini? Apakah benar inspirasinya datang dari senjata Parang? Bagaimana menurut Anda?

Asal Usul Batik Parang

Motif Parang adalah sebuah motif yang diciptakan oleh seorang raja Mataram bernama Danang Sutawijaya. Saat itu beliau sedang bersemedi di sebuah tebing di kawasan Pantai Selatan Jawa, dimana ia memperhatikan deburan ombak yang datang silih berganti menabrak karang-karang di tepi pantai hingga berlubang-lubang dan rusak. Ombak inilah yang merupakan inspirasi dari batik Parang.

Bentuk huruf S pada batik Parang (disebut juga Gareng) melambangkan ombak yang menerpa karang dengan hebat dan gigih. Sedangkan bentuk belah ketupat diantara 2 alur motif huruf S, disebut juga sebagai “Mlinjon”, melambangkan lubang-lubang yang terbentuk pada batu karang akibat hantaman ombak.

Motif diagonal 45⁰ pada batik Parang disebut sebagai “Lerengan”, ini merupakan simbol dari tebing atau lereng tempat sang raja bersemedi. Yang punya motif diagonal ini tidak hanya batik Parang saja, batik motif Udan Liris juga motifnya memiliki alur diagonal, serta ada juga batik-batik lain. Tapi motif bentuk huruf S yang diagonal, sudah pasti itu batik Parang.

Jadi apakah batik Parang terinspirasi dari senjata Parang? Tentunya apabila kita lihat dari asal-usulnya memang tidak sama sekali. Ombaklah yang menjadi inspirasi dari motif batik Parang ini.

Makna Batik Parang

  1. Kekuatan Yang Dapat Meruntuhkan Kekokohan

Ombak adalah simbol kekuatan, dengan gigih menerpa karang yang keras dan dibuat berlubang-lubang. Pengguna batik Parang diharapkan adalah seseorang yang kuat secara fisik dan mental, bukan orang yang lemah akan godaan. Ia harus tabah dalam menjalani hidup, tidak gampang menyerah pada cobaan. Walaupun gagal tidak akan putus asa dan goyah.

  1. Konsisten Dalam Berbuat Baik

Bentuk motif Parang yang selalu bersambung dan berulang menggambarkan sebuah usaha seseorang dalam memperbaiki diri dan usaha meningkatkan kemampuannya yang tidak pernah putus. Selalu berusaha memperjuangkan kesejahteraan, membina silaturahmi yang tidak henti-hentinya dilakukan. Persis seperti kegigihan ombak yang menerpa karang.

  1. Kebijaksanaan dan Keadilan

Seperti Pancasila nih. Lengkungan huruf S pada motif Parang disebut Gareng. Nama ini diambil dari seorang tokoh pewayangan bernama Gareng. Gareng merupakan simbol dari kebijaksanaan. Ia dapat melihat dunia dari sudut pandang yang luas dan berbeda-beda. Dia tidak hanya melihat sebuah permasalahan dari sudut pandangnya sendiri, namun dari berbagai sudut. Ia dapat menyelesaikan permasalahan tanpa berat sebelah, menjadi sosok yang dikenal adil. Inilah kebijaksanaan dan keadilan yang terkandung pada motif batik Parang.

Nah baiklah itulah tadi asal usul dan makna-makna yang tersirat pada batik bermotif Parang. Batik Parang adalah lambang kekuatan, kegigihan, keadilan, kebijaksanaan, dan konsistensi dalam mengembangkan diri. Mungkin inilah kenapa batik ini masuk kedalam kelompok motif larangan, yang hanya boleh digunakan oleh para pemimpin kerajaan. Kalau dilihat memang makna yang terkandung di dalamnya mencerminkan sifat-sifat pemimpin ya. Apakah anda sudah cocok menggunakan batik Parang?